Gaya Hidup atau Strategi Marketing and advertising?

Jakarta

Flexing merupakan kata gaul atau slang phrase dari Amerika yang artinya suka pamer. Secara definisi flexing adalah menyombongkan diri dengan memamerkan kemewahan atau kekayaan. Saat ini kita temui baik secara nyata maupun maya orang-orang yang melakukan private branding (pencitraan terhadap diri sendiri) dengan memamerkan kemewahan. Nyatanya hal ini merupakan cara sukses untuk menarik perhatian publik baik untuk kepuasan maupun keuntungan pribadi.

Baru-baru ini terdapat fenomena flexing yang sempat viral, yakni dilakukan oleh Simon Hayut atau sosok yang mengaku sebagai Simon Leviev dan berpura-pura sebagai miliarder. Simon menipu para korban melalui aplikasi kencan Tinder dengan memasang foto-foto mewah untuk memikat banyak perempuan. Setelah mendapat perhatian perempuan, ia lalu mengajak kencan mahal dengan menaiki jet pribadi, makan malam, dan menginap di hotel mewah.

Begitu korban terperdaya oleh Simon, ia mulai melancarkan aksi penipuan dengan meminjam uang korban dengan dalih menghindari musuh bisnisnya. Dengan uang pinjaman tersebut, Simon membiayai hidupnya yang mewah dan foya-foya untuk mencari korban selanjutnya. Hal ini bisa juga disebut sebagai skema ponzi. Dikutip dari OCBCNISP, pengertian skema ponzi yaitu sebuah metode atau modus investasi palsu dari uang penipu sendiri atau investor berikutnya kepada trader sebelumnya.

Fenomena ini kemudian diangkat menjadi film dokumenter yang berjudul The Tinder Swindler karya sutradara Felicity Morris yang tayang di Netflix dan menjadi movie yang masuk Leading 10 in Indonesia These days. Banyak fenomena flexing yang secara tidak sadar kita temui bahkan kita nikmati. Sebelumnya, dalam tayangan serial Netflix yang berjudul Single’s Inferno juga terdapat fenomena flexing yang dilakukan oleh salah satu kontestannya.

Single’s Inferno adalah truth exhibit Korea Selatan yang mengundang para lajang untuk dipertemukan di sebuah pulau dan berkompetisi menemukan cinta. Dalam serial ini terdapat kontestan bernama Tune Jia “Cost-free Zia” yang tersandung kontroversi karena memakai barang branded palsu untuk acara komersial. Di berbagai system media banyak diperlihatkan bahwa Tune Jia memang mem-branding dirinya sebagai sosok yang suka menggunakan barang branded, dan tinggal di apartemen mahal.

Tidak hanya dalam fact present, ia juga eksis membuat konten kecantikan untuk channel Youtube dan putting up-an Instagram-nya. Setelah mendapat sorotan utama karena visible dan citra gadis kaya raya. Song Jia makin viral dan sering diundang di banyak acara. Jumlah follower Instagram dan subscriber channel Youtoube-nya pun meningkat pesat.

Selain kasus penggunaan barang branded palsu, Jia juga berbohong mengenai apartemen yang ditempatinya. Apartemen mewah tersebut ternyata bukan miliknya, tapi disewa bulanan oleh agensinya. Namun sayang setelah kontroversinya viral, Song Jia mem-putting up surat permintaan maaf dan menghapus seluruh kontennya serta berencana pensiun dari dunia hiburan.

Di Indonesia sendiri banyak kita kenal nuts rich atau orang kaya dengan sebutan “sultan” yang berlomba-lomba menunjukkan kemewahan. Mulai dari memperlihatkan saldo rekening, menggunakan barang branded, jet pribadi, melakukan give absent, dan berbagai kekayaan lainnya. Hal tersebut kemudian menjadi konten yang dipertontonkan kepada publik. Kegiatan mempertontonkan, menunjukkan, memamerkan kemewahan atau kekayaan itulah kita sebut sebagai flexing.

Tanpa kita sadari flexing bisa menjadi tolok ukur gaya hidup yang ditiru oleh berbagai kalangan, serta menjadikan flexing sebagai strategi pemasaran untuk mendapat endorsement atau keuntungan lainnya. Semakin terlihat kaya, charge harga atau nilai jual semakin tinggi. Kemudian setelah memperoleh keuntungan yang banyak, semakin merasa berhak memperoleh privilese.

Akademisi dan praktisi Rhenald Kasali dalam salah satu konten Youtube-nya mengatakan bahwa flexing ternyata bisa “memancing” keberuntungan. Kaya boong-boongan yang dipamerkan ini dipercaya oleh kaum milenial dan ditiru luas. Ia memberi contoh, ada seorang wanita bahkan berpura-pura menjadi bagian dari kaum sosialita untuk dapat menggaet pria kaya yang tertipu akan kemewahan yang disuguhkan.

Rupanya flexing bisa menjadi gaya hidup dan strategi advertising yang dilakukan untuk meraih kesuksesan. Banyak orang berbondong-bondong melakukan flexing demi terkenal dan mencapai tujuannya. Dari beragam contoh fenomena di atas, flexing terbukti ampuh untuk menarik perhatian. Bayangkan saja, siapa yang tidak tergiur dengan sosok bergelimang harta, hidup serba berkecukupan, mudah dalam mendapatkan segala sesuatu.

Di berbagai media sosial konten menunjukkan kemewahan ini laku dan menjadi favorit para netizen. Padahal kita sama sekali tidak tahu apakah kekayaan dan kemewahan yang ditampilkan tersebut nyata atau palsu. Meskipun terkadang ada orang yang melakukan flexing dengan dalih ingin menginspirasi, membantu sesama, meningkatkan percaya diri bahkan mengapresiasi suatu pencapaian. Namun jika dilakukan secara berlebihan bisa menjadi harapan semu bagi penontonnya untuk bisa sukses secara instan tanpa memikirkan proses kerja keras.

Silvia Noviana N Expert Sosiologi SMAN 14 Garut

(mmu/mmu)